Bismillahirrohmanirrohim
Assalamu'alaikum
Apasih saat ini yang tidak bisa dipalsu, namanya barang-barang elektronik yang dipalsu mungkin bisa dimaklumi (bukan bermaksud melegalkan aktivitas haramnya), akunt-akunt dunia maya, surat-surat kendaraan bermotor , eh ternyata ijazahpun jugapun tak luput dari pemalsuan, parahnya pemalsuan ini bukan satu, dua atau tiga ijazah tetapi sungguh fantastik, angkanya mencapai 1.661 ijazah sejak tahun 2007.
Melihat angka yang dipalsu saja sudah terpana, akan lebih terperanjat lagi jika tahu yang dipalsu ijazah itu bukan ijazah SD, SMP atau SMA tapi ijazah Akta VI (1030 ijazah), S1 (515 ijazah), S2 (99 ijazah). sampai ijazah S2-kah? eh eh jangan salah ternyata S3 juga dipalsu dengan angka mencapai 17 lembar ijazah, ditunggu sebentar lagi bisa jadi ijazah proffesorpun (yang bertanda-tangan harus presiden itu) bisa dipalsu atau kalau boleh bersu'udhon barangkali sudah terjadi tapi belum terungkap kasusnya.
Bayangkan, Kasus ini hanya di Jawa Timur tok, bagaiamana dengan daerah-daerah lain di Indoesia, semoga saja tidak ditemukan.
Beberapa tahun yang lalu kejadian ini memang pernah terungkap, eh ternyata sekarang terulang dan berulang lagi, entah sampai kapan ini akan berhenti?
Mengapa sedemikian pentingnya sebuah ijazah, sampai-sampai berani mengeluarkan kocek yang tidak sedikit kisaran 12,5 juta sampai 70 juta, menjadi sebuah tanya besar tanpa kesegajaan/tidak tahu ataukah memang sudah setali tiga uang antara penjual (pembuat) dan pembelinya? kalau tidak tahu dan tidak sengaja berarti memang korban, yang perlu diungkap pemain-pemainnya. Yang repot adalah andai konsumennya ternyata sudah mengetahui bahwa ijazah yang diperoleh memang asli tapi palsu, ya tidak mungkinlah dia berani mengakui terus terang sebagai korban, mau ditaruh dimana nih muka jika ketahuan ijazahnya ternyata palsu, kecuali kalau memang sudah tidak berkemaluan lagi, eeh maksudnya rasa malu sudah luntur dalam kodratnya.
Sungguh pencarian jalan pintas yang menggoda bagi konsumen yang sudah tahu bahwa proses yang ditempuhnya adalah illegal, demi memperoleh status kehidupan yang menggiurkan entah untuk menjadi anggota dewan barang kali atau untuk melamar sebagai pegawai negeri barangkali atau agar status kepegawaiannya cepat menanjak ataukah agar mendapat tunjangan profesi pendidikan karena ada program sertifikasi pemerintah atau hanya demi mengejar prestice belaka (yang ini ndak mungkin barangkali ya?).
Tidak tahu diperguruan Tinggi negeri, barangkali kasus ini tidak pernah terjadi atau pernah juga, yang rawan kejadian adalah PT Swasta, tidak tahu juga kenapa bisa terjadi, kan sudah ada Kopertis/Kopertais!, apakah Koordinator Perguruan Tiggi Swasta ini begitu longgar dan tumpul dalam pengawasan dan pengendalian, bukankah PTS-PTS itu ada di bawah koordinatornya. Parah kenapa kasusnya baru bisa terungkap saat ini, padahal menurut tersangka dia sudah melakukan kegiatan ilegalnya sejak tahun 2007 (setelah 6 tahun baru terungkap).
Sungguh enam tahun bukanlah waktu yang pendek untuk mengungkap kasus ini, tak adakah pelapor dari korban (kalau memang benar-benar korban), atau bagaimana mungkin Kertas PERURI (bukan sembarang percetakan melainkan percetakan pemerintah oke punya gitu lo), yang mempunyai ciri khusus hologram berseri cetakannya ditambah berstempel itu lolos di meja korektor Kopertis? betapa ini sebuah kecerobohan di atas kecerobohan yang memalukan
Yang kasihan adalah PTS-PTS yang lembagannya dicatut sebagai lembaga yang mengeluarkan ijazah palsu itu, disaat gencar-gencarnya promosi positif untuk memperoleh mahasiswa baru, ditambah persaingan memperoleh mahasiswa baru antar perguruan tinggi begitu ketat, wajah lembaganya tercoreng oleh oknum-oknum nakal. dan akibat vital yang diperoleh adalah masyarakat tidak akan menaruh kepercayaan lagi kepada lembaga tersebut. Kalau masyarakat sudah tidak menaruh kepercayaan lagi lantas siapa yang akan kuliah dilembaganya tersebut.
Akhirnya memang ada penjual ada pembeli, ada penawaran ada permintaan atau ada kebutuhkan dan ada yang sanggup memenuhi kebutuhan tersebut, meskipun toh palsu-memalsu ini adalah nyata-nyata tindakan penyelewengan yang melawan hukum, tetap saja kasus ini akan terus terjadi, tergantung kita bagaimana mensikapinya, karena ini adalah musuh kita bersama ; pemerintah dengan lembaga terkaitnya, kepolisian, lembaga-lembaga hukum, lebih-lebih dalam masyarakat sendiri masihkan menaruh harap melalui jalan yang tidak semestinya?,tentunya tidak bukan?
Wassalam
Catatan : tulisan yang ini saya copas-copas sendiri untuk Kompasiana
Assalamu'alaikum
Apasih saat ini yang tidak bisa dipalsu, namanya barang-barang elektronik yang dipalsu mungkin bisa dimaklumi (bukan bermaksud melegalkan aktivitas haramnya), akunt-akunt dunia maya, surat-surat kendaraan bermotor , eh ternyata ijazahpun jugapun tak luput dari pemalsuan, parahnya pemalsuan ini bukan satu, dua atau tiga ijazah tetapi sungguh fantastik, angkanya mencapai 1.661 ijazah sejak tahun 2007.
Melihat angka yang dipalsu saja sudah terpana, akan lebih terperanjat lagi jika tahu yang dipalsu ijazah itu bukan ijazah SD, SMP atau SMA tapi ijazah Akta VI (1030 ijazah), S1 (515 ijazah), S2 (99 ijazah). sampai ijazah S2-kah? eh eh jangan salah ternyata S3 juga dipalsu dengan angka mencapai 17 lembar ijazah, ditunggu sebentar lagi bisa jadi ijazah proffesorpun (yang bertanda-tangan harus presiden itu) bisa dipalsu atau kalau boleh bersu'udhon barangkali sudah terjadi tapi belum terungkap kasusnya.
Bayangkan, Kasus ini hanya di Jawa Timur tok, bagaiamana dengan daerah-daerah lain di Indoesia, semoga saja tidak ditemukan.
Beberapa tahun yang lalu kejadian ini memang pernah terungkap, eh ternyata sekarang terulang dan berulang lagi, entah sampai kapan ini akan berhenti?
Mengapa sedemikian pentingnya sebuah ijazah, sampai-sampai berani mengeluarkan kocek yang tidak sedikit kisaran 12,5 juta sampai 70 juta, menjadi sebuah tanya besar tanpa kesegajaan/tidak tahu ataukah memang sudah setali tiga uang antara penjual (pembuat) dan pembelinya? kalau tidak tahu dan tidak sengaja berarti memang korban, yang perlu diungkap pemain-pemainnya. Yang repot adalah andai konsumennya ternyata sudah mengetahui bahwa ijazah yang diperoleh memang asli tapi palsu, ya tidak mungkinlah dia berani mengakui terus terang sebagai korban, mau ditaruh dimana nih muka jika ketahuan ijazahnya ternyata palsu, kecuali kalau memang sudah tidak berkemaluan lagi, eeh maksudnya rasa malu sudah luntur dalam kodratnya.
Sungguh pencarian jalan pintas yang menggoda bagi konsumen yang sudah tahu bahwa proses yang ditempuhnya adalah illegal, demi memperoleh status kehidupan yang menggiurkan entah untuk menjadi anggota dewan barang kali atau untuk melamar sebagai pegawai negeri barangkali atau agar status kepegawaiannya cepat menanjak ataukah agar mendapat tunjangan profesi pendidikan karena ada program sertifikasi pemerintah atau hanya demi mengejar prestice belaka (yang ini ndak mungkin barangkali ya?).
Tidak tahu diperguruan Tinggi negeri, barangkali kasus ini tidak pernah terjadi atau pernah juga, yang rawan kejadian adalah PT Swasta, tidak tahu juga kenapa bisa terjadi, kan sudah ada Kopertis/Kopertais!, apakah Koordinator Perguruan Tiggi Swasta ini begitu longgar dan tumpul dalam pengawasan dan pengendalian, bukankah PTS-PTS itu ada di bawah koordinatornya. Parah kenapa kasusnya baru bisa terungkap saat ini, padahal menurut tersangka dia sudah melakukan kegiatan ilegalnya sejak tahun 2007 (setelah 6 tahun baru terungkap).
Sungguh enam tahun bukanlah waktu yang pendek untuk mengungkap kasus ini, tak adakah pelapor dari korban (kalau memang benar-benar korban), atau bagaimana mungkin Kertas PERURI (bukan sembarang percetakan melainkan percetakan pemerintah oke punya gitu lo), yang mempunyai ciri khusus hologram berseri cetakannya ditambah berstempel itu lolos di meja korektor Kopertis? betapa ini sebuah kecerobohan di atas kecerobohan yang memalukan
Yang kasihan adalah PTS-PTS yang lembagannya dicatut sebagai lembaga yang mengeluarkan ijazah palsu itu, disaat gencar-gencarnya promosi positif untuk memperoleh mahasiswa baru, ditambah persaingan memperoleh mahasiswa baru antar perguruan tinggi begitu ketat, wajah lembaganya tercoreng oleh oknum-oknum nakal. dan akibat vital yang diperoleh adalah masyarakat tidak akan menaruh kepercayaan lagi kepada lembaga tersebut. Kalau masyarakat sudah tidak menaruh kepercayaan lagi lantas siapa yang akan kuliah dilembaganya tersebut.
Akhirnya memang ada penjual ada pembeli, ada penawaran ada permintaan atau ada kebutuhkan dan ada yang sanggup memenuhi kebutuhan tersebut, meskipun toh palsu-memalsu ini adalah nyata-nyata tindakan penyelewengan yang melawan hukum, tetap saja kasus ini akan terus terjadi, tergantung kita bagaimana mensikapinya, karena ini adalah musuh kita bersama ; pemerintah dengan lembaga terkaitnya, kepolisian, lembaga-lembaga hukum, lebih-lebih dalam masyarakat sendiri masihkan menaruh harap melalui jalan yang tidak semestinya?,tentunya tidak bukan?
Wassalam
Catatan : tulisan yang ini saya copas-copas sendiri untuk Kompasiana
This comment has been removed by the author.
ReplyDeletesuka ga ngerti pula, kenapa harus melakukan pemalsuan, padahal yang dibutuhkan sekarang adalah kualitas2 asli yang dapat bersaing dengan sehat. semoga pemalsuan, khusunya ijazah dapat ditindak. ga heran kalo korupsi merajalela, wong banyak yang melakukan manipulasi :)
ReplyDeleteyah sepertinya hal ini sudah menjadi hal yang lumrah dinegara kita, mending sih kalo pake ijazah ga asli tapi kualitasnya bagus...
ReplyDeleteIilah indonesia. Ijazah pulsa. Akte palsu, Akte cerai Palsu, Akte nikah palsu hehe...
ReplyDeleteduh kapan yah negara kita jauh dari spti ini.. naudzubillah
iya ya.. kenapa ceroboh sekali ya aset peruri bisa kemana-mana begitu.
ReplyDeleteini soal disiplin Mas. di tingkat yang parah ya sekerang ini soal ini.
aku sekarang males om lamar kerja pake ijazah..seperti ga berguna tuh.low ga memenuhi syarat atau nilai tinggi ga ada harapan untuk lolos, padahal yang dibutuhkan itu tenaga orangnya bukan ijazahnya..
ReplyDeletemending buka usaha sendiri deh, yang ga pake ijazah..hehe
Lambat laun kedepanya kalau di biarkan pasti akan menjadi budaya palsu di negri ini
ReplyDeleteInilah Indonesia sobat, semua bisa di atur bisa dirundingkan yang tentu harus melibatkan fulus. Tapi kita berharap itu gak sampai 0,001 % dari semua lulusan.
ReplyDeletenamanya juga usaha...wakakakakak! piss bro just kidding!.
ReplyDeleteada juga loch ijazah asli tapi palsu. mau tau?
banyak tuh yang beli IP biar bagus. padahal kalo di test otaknya,..mandul!!
kehebatan indonesia ya itu mas, bagian tiru meniru, sogok menyogok, dan palsu memalsukan....
ReplyDeletekalau menurut survei sih, pemalsuan ijazah untuk pekerjaan dan membangun CV,, intinya untuk harta lah,, kalau sudah buta mata hati, semuanya jadi halal :D
ReplyDeletemenurut saya disini masih mementingkan ijasah dari pada skill
ReplyDeleteselamai itu masih ada maka yang palsu-palsu masih digemari
hehe...
@Irma Devi Santika : betul mbak biar menjadi efek jera bagi yang lainnya,
ReplyDelete@Muro'i El Barezy : iya sob kelumrahan yang tidak bisa dibiarkan, kalau memang berkualitas ngapain ya mbela-belain yang aspal mengapa tidak mencari yang sah-sah saja,
@Annur El-Kareem : iya semoga cepat, bikin pusing ya memikirkan
@zachflazz : kedisiplinan dan kejujuran utamanya ya sob,
ReplyDelete@Poerwanto Sigit : Iya sob lebih baik begitu syukur-syukur misalkan bisa membuka lapangan kerja bagi yang lainnya,
@Cik Awi : wah kalau dibiarkan terus tidak tahu apa jadinya negeri ini ya?
@Tabuh Gong : iya sob sekecil apapun jika dibiarkan tidak mustahil akan menjadi besar juga kan?
ReplyDelete@Bung Penho : betul pendapat sobat,itu hakekatnya sama dengan palsu, jual beli yang lebih ngarah ke suap-menyuap dosen biar IPnya bagus,
@Yadibarus : betul sob prestasi yang tidak seharusnya ya
@Naturalzine : iya sob betul itulah jika harta sudah menjelma menjadi sesembahan,
ReplyDelete@Fajar_p_k : iya sob tindakan yang bisa merugikan mereka-mereka yang benar-benar sejati dan lurus
krn di sini, bbp innstansi lebih melihat selembar ijazah dari pada kemampuan / skil yg di miliki seseorg, ini yg membuat peluang bagi bbp org yg tak bertanggung jawab , sehingga mereka dengan seenaknya membuat / memiliki ijazah palsu.
ReplyDeleteBegitulah bang Arif di negara kita ini pada kacau semua...wkwkwkwkkw...hhhddeecchhhh cape dech...hahahahyyy
ReplyDeleteNgomongin ijazah palsu, awal bulan kemarin saya smpat rasan-rasan alias bincang-bincang kecil dgn teman kerja perihal situs di internet yg menawarkan jasa pembuatan ijazah aspal. Aku dan tmnku geleng2 kepala smbil brpikir, "Ini beneran ato cuma situs iseng doang?! Kok berani bener dia bikin situs/ngiklan di internet. Kan bisa ditangkp polisi nanti." Eee... ga' berselang lama, pas mlm2 sy liat tivi, ada berita sang pemilik situs itu (3 org) diciduk polisi & dijebloskn ke penjara.
ReplyDeleteKira-kira setahun yang lalu, saya mendapatkan telepon dari seorang kenalan yang sudah ada sepuluh tahunan tidak bertemu. Dia bilang, "Bisa mengusahakan ijasah dari kampus di Jogja, satu saja untuk saya, dan biayanya berapa?" Saya langsung menjawab, "Astaghfirullah..., yang kayak gini kan haram, Mas." Dia menjawab, "Jaman sekarang yang kayak gini sudah biasa, Bos." Lalu saya bilang kalo saya tidak punya link yang kayak gini, dan saya tandaskan, jika tahu pun saya tidak akan mau, akhirnya ia memutuskan teleponnya.
ReplyDelete@Hariyanti Sukma : iya betul berarti systemnya juga andil memberi ruang tidak langsung untuk tindakan penyelewengan ya mbak
ReplyDelete@Icah Banjarmasin : iya bang kacau balau hehe....
@Irham Sya'roni : oh begitu ya sob, sampai berani buat situs segala
@Akhmad Muhaimin A : prosesnya saja jelas haram bagaimana nanti uang yang didapat, berarti tidak di Jatim saja kasusnya ya sob (sambil geleng-geleng kepala nih)
kalau yang palsu-palsu..saat ini Indonesia termasuk salah satu jagoannya :)
ReplyDeletewah ngeri juga ya klo ada di paslu, ini adalah akibat kurangnya harga diri sehingga ga percaya diri dan akhirnya membeli ijasah walau dirinya tidak mengenyam pendidikan itu. ehm, ngeri juga.. siapa ya pelakunya
ReplyDeleteJadilah diri sendiri apa adanya, jangan dipalsukan donk
ReplyDeleteweleh.. bahaya nih yang begini.
ReplyDeletejadi orang tiruan hehee..
tidak menjadi aneh kang...ini Endonesia bung...hehehe
ReplyDeletejangankan ijazah palsu, manusia palsupun banyak disini...:o)
maaf baru bisa mampir kesini setelah beberapa saat off.
salam sehat selalu
tidak menjadi aneh kang...ini Endonesia bung...hehehe
ReplyDeletejangankan ijazah palsu, manusia palsupun banyak disini...:o)
maaf baru bisa mampir kesini setelah beberapa saat off.
salam sehat selalu
negeri ini sudah kronis...
ReplyDeletesalam gan ...
ReplyDeletemenghadiahkan Pujian kepada orang di sekitar adalah awal investasi Kebahagiaan Anda...
di tunggu kunjungan balik.nya gan !